September 21, 2016
No Comments

Di jaman modern sekarang, teknik sablon sudah tak dipungkiri lagi urgensinya. Hampir semua produk sehari-hari menggunakan teknik gesut atau sablon dalam proses produksinya.

Jika Anda belum percaya, coba lah lihat kemasan snack yang sering Anda makan. Atau coba Anda amati cover majalah atau buku yang anda punya. Atau coba Anda perhatikan gambar pada t-shirt yang sedang Anda pakai.

Semuanya memakai teknik cetak atau print biar tampak lebih indah dan menawan untuk dikonsumsi.

stoffa

Awal Mula Metode Cetak Saring atau Sablon

Teknik sablon atau cetak saring pertama kali ditemukan di Tiongkok, pada zaman Dinasti Song (960 – 1279 M). Kemudian teknik tersebut menyebar ke beberapa negara Asia seperti Jepang, Taiwan dan Korea.

Kemudian negara tersebut mulai mencontek metode sablon baju t-shirt ini dan mengembangkannya dengan menggabungkannya dengan menggunakan teknik sablon atau cetak lainnya.

Selang beberapa abad kemudian, teknik sablon mulai mendunia dan dibawa ke negara-negara Eropa Barat setelah meluas dari Asia pada akhir tahun 1700an. Namun, pada awalnya teknik cetak saring atau sablon tidak mendapat respon yang baik di sana.

Namun akhirnya sablon untuk bahan tekstil akhirnya menjadi populer semenjak material sutera mulai banyak dipakai di pasaran. Teknik cetak saring atau sablon tersebut dipakai untuk membuat dekorasi pada kain sutera.

Merambah ke Dunia Komersil

Waktu pun terus berjalan. Teknik sablon atau cetak saring pun akhirnya pertama kali dipatenkan di Inggris oleh Samuel Simon pada tahun 1907. Awalnya, teknik cetak saring dipakai sebagai alternatif untuk melakukan pencetakan pada kertas dinding (wallpaper), pencetakan sprei, sutra, atau bahan – bahan kain lainnya yang memiliki nilai jual tinggi.

Namun akhirnya penyablonan merambah ke berbagai bahan, termasuk sablon kaos, sablon poster dan sablon pada media lainnya.

Metode Cetak Saring pada Dunia Seni

Selain merupakan media penunjang komersial, teknik sablon pun menjadi salah satu media berpengaruh di ranah seni rupa. Pada ranah teknologi industri, teknik penyablonan dimodifikasi oleh para pekerja seni sebagai sebuah solusi atas bahan baku produksi cetak konvensional yang membutuhkan biaya tinggi.

Metode cetak saring ini pun menjadi penyelesaian praktis dan terjangkau untuk melakukan pencetakan karya seni secara berkali-kali.

Lalu pada era 30an, sekumpulan seniman sablon di Britania mencetuskan pendirian organisasi dengan nama Perkumpulan Serigrafi Nasional (National Serigraphic Society), yang pada mulanya dikenal dengan nama Serigrafi pada tahun yang sama.

Kata Serigrafi itu sendiri berasal dari gabungan bahasa Latin, yaitu ‘Seri’ (sutra), dengan bahasa Yunani ‘Graphein’ (menulis atau menggambar).

Perkumpulan tersebut dibuat untuk mengklasifikasi antara pekerja seni yang berkarya di bidang seni dengan menggunakan penyablonan, dengan mereka yang memang bergerak di bidang sablon untuk kepentingan bisnis.

Salah satu seniman senior bernama Andy Warhol adalah salah satu nama yang memiliki andil besar dalam memperkenalkan teknik penyablonan yang bersinggungan dengan istilah serigrafi tersebut.

Warhol sangat dikenal dengan karyanya pada tahun 1962, yaitu gambar Marilyn Monroe yang dicetak dengan mengandalkan warna – warna yang menabrak. Pada era itu, Warhol pun mempopulerkan aliran seni visual baru buatannya sendiri, yang biasa dikenal dengan istilah Pop Art.

Sekarang, teknik sablon menjadi populer, baik dalam dunia seni, maupun pencetakan secara komersial. Seringkali teknik sablon ini digunakan untuk mencetak sablon pada t-shirt, topi, CD, kaca, polyetilen, paper, logam, kayu, dan lain sebagainya.

Perkembangan Metodologi Sablon pada Kaos

Pada tahun 1960, seorang pengusaha sekaligus seniman dari negeri paman sam bernama Michael Vasilantone, mengembangkan suatu mesin gesut dengan model rotary agar bisa menyablon beberapa warna serta mengajukan patennya.

Mesin penyablonan tersebut pada awalnya dibuat untuk mencetak simbol dan tulisan pengenal pada t-shirt pada grup bowling. Namun kemudian fungsinya dieksplorasi lebih jauh lagi hingga akhirnya menjadi salah satu solusi termutakhir dalam memproduksi sablon pada media kaos.

Paten yang diajukan oleh Vasilantone tidak memakan waktu yang lama. Cuma membutuhkan waktu kurang dari 5 tahun saja, mesin sablon bergaya rotary ala Vasilantone ini kemudian dikenal oleh berbagai pengusaha sandang di Amrik.

Selain itu, teknologi sablon baju t-shirt tersebut pun menjadi salah satu metode paling populer dalam dunia industri penyablonan hingga sekarang.

lalu pada tahun 1967 Vasilantone mematenkan mesin sablon kaos rotary-nya untuk status paten tingkat dunia. Hak paten dunia pun muncul atas namanya dengan nomor 3.427.964 pada tanggal 18 Februari 1969.

Sekarang, kebanyakan aktifitas pencetakan teknik sablon kaos di Amerika dan seluruh dunia memakai teknik sablon baju kaos dengan metode rotary ala Vasilantone.
Kemudian pada dekade berikutnya, seorang pebisnis sekaligus pekerja seni bernama Marc Tartaglia Jr. and Michael Tartaglia berhasil membuat teknik peralatan sablon t-shirt yang didaftarkan hak patennya.

Mereka mematenkan sebuah teknik sablon separasi yang dapat mencetak gambar full color bisa disablon dan diterapkan pada beberapa lembaran dengan melalui media printer screen yang terbuat dari benang.

Kini, teknik gesut sudah sangat familiar dipakai pada berbagai industri pakaian yang volume produksinya besar seperti kaos, jaket, polo, poster dan display untuk kebutuhan promosi lainnya. Biasanya, untuk mencetak dengan hasil full color kerap dibuat dengan teknik warna CMYK (cyan, magenta, yellow and black (‘key’)).

admin

    Your Turn To Talk

    Leave a reply:

    Your email address will not be published.